BAB subbab (1)latar belakang, (2)tujuan penelitian, dan

BAB
I

PENDAHULUAN

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

            Dalam
bab ini dibahas subbab (1)latar belakang, (2)tujuan penelitian, dan (3)manfaat
penelitian. Ketiga subbab tersebut dijabarkan sebagai berikut.

1.1  Latar Belakang

Dewasa
ini berbagai olahan dari buah pisang sedang digemari masyarakat khususnya di Indonesia.
Pisang juga menjadi salah satu buah yang sering dikonsumsi masyarakat sehari –
hari, karena berbagai manfaat dan khasiat dari daging buahnya. Kebanyakan
masyarakat hanya mengambil daging buahnya saja lalu membuang kulit pisang yang sering dianggap sampah  atau
hanya sebagai limbah.

Akan
tetapi, kulit pisang yang biasanya dibuang oleh masyarakat ini mempunyai
manfaat yang cukup penting bagi kehidupan manusia. Kulit pisang ini dapat menghasilkan
sumber energi listrik alternatif. Mengingat penggunaan energi listrik di Indonesia dari tahun
ke tahun semakin meningkat. Sementara itu, suplai energi listrik yang bersumber
dari minyak bumi, gas alam, dan batu bara memiliki keterbatasan. Hal ini
dikarenakan bahan-bahan tersebut bersifat tidak dapat diperbaharui.

Limbah
kulit pisang dapat digunakan sebagai sumber arus listrik, karena dalam kulit
pisang terdapat berbagai macam elektrolit seperti asam asetat, magnesium, seng,
dan kalium yang mampu menghantarkan ion dan elektron dalam elektroda. Namun, pemanfaatan
limbah kulit pisang sebagai sumber energi listrik alternatif belum
dimanfaaatkan secara maksimal oleh masyarakat. Oleh karena itu,
dalam makalah ini saya akan  membahas
pemanfaatan kulit pisang sebagai energi listrik alternatif.

1.2  Tujuan Penelitian

Adapun
tujuan dalam penulisan makalah ini yaitu sebagai berikut.

a.       Untuk
mengetahui zat yang terkandung dalam kulit pisang.

b.      Untuk
mengetahui potensi elektrolit limbah kulit pisang sebagai energi listrik
alternatif.

 

 

 

 

 

1.3  Manfaat Penelitian

Manfaat dalam penelitian ini yaitu
sebagai berikut.

a.       Memberikan
alternatif untuk menggunakan limbah kulit pisang sebagai sumber arus listrik.

b.      Menciptakan
energi listrik alternatif yang ramah lingkungan

c.       Memanfaatkan
secara maksimal limbah kulit pisang sebagai energi listrik alternatif.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB
II
ISI

Dalam bab ini dibahas subbab (1)kajian
pustaka, (2)metode penelitian, (3)paparan data dan pembahasan, dan (4)penutup.
Keempat subbab tersebut dijabarkan sebagai berikut.

2.1
Kajian Pustaka

            2.1.1 Pengertian tanaman pisang

Pohon Pisang mempunyai tinggi batang 2,5-3 m dengan warna hijau kehitaman. Panjang Tandan 60-100 cm dengan berat 15-30 kg. Setiap tandan terdiri dari
8-13 sisiran dan setiap sisiran ada 12-22 buah. Daging buah dari pisang ini
putih kekuningan, rasanya manis agak
asam, dan lunak. Kulit buah tebal berwarna hijau kekuningan sampai kuning
muda halus.

Pisang termasuk tanaman yang dapat tumbuh di sembarang
tempat. Namun, agar produktivitas tanaman optimal, sebaiknya pisang ditanam di
dataran rendah. Ketinggian tempat haruslah di bawah 1.000 meter di atas
permukaan laut. Iklim tropis basah, lembab, dan panas mendukung pertumbuhan
pisang. Namun, pisang masih dapat tumbuh di daerah subtropis. Pada kondisi
tanpa air, pisang masih tetap tumbuh karena air disuplai dari batangnya yang
berair. Curah hujan optimal adalah 1.520–3.800 mm/tahun dengan 2 bulan kering.
Variasi curah hujan harus diimbangi dengan ketinggian air tanah agar tanah
tidak tergenang.

Jenis tanah yang disukai tanaman pisang adalah tanah liat
yang mengandung kapur atau tanah alluvial dengan pH antara 4,5-7,5. Karena itu,
tanaman pisang yang tumbuh di tanah berkapur sangat baik. Di daerah beriklim
kering antara 4-5 bulan pun pisang masih tumbuh subur asalkan air tanah tidah
lebih dari 150 cm di bawah permukaan tanah. Sementara kedalaman air tanah yang
sesuai untuk pisang yang ditanam di iklim biasa adalah 50-200 cm di bawah
permukaan tanah.

 

2.1.2 Zat yang terkandung dalam
kulit pisang

Buah
pisang sebagai bahan pangan merupakan sumber energy (karbohidrat) dan mineral,
terutama kalium.  Nilai energi pisang
sekitar 136 kalori untuk setiap 100 gram, yang secara keseluruhan berasal dari
karbohidrat.  Pisang kaya mineral seperti
kalium, magnesium, fosfor, klorida, kalium, dan besi. Bila dibandingkan dengan
jenis makanan nabati lain, mineral pisang khususnya besi hampir seluruhnya
dapat diserap tubuh.

Hasil
analisis kulit pisang di Indonesia menunjukkan bahwa kulit pisang memiliki
kandungan zat makanan yang cukup tinggi. Untuk mengetahui lebih jelas kandungan
dalam kulit pisang dapat dilihat dari tabel 1.

Tabel 1. Kandungan dalam Kulit
Pisang per 100 gram

 

 

 

 

 

2.1.3       
Pengertian
sumber arus listrik

Arus
listrik adalah aliran muatan listrik. 
Arus listrik mengalir dalam suatu rangkaian karena adanya beda potensial
antara dua titik dalam rangkaian yaitu dari titik berpotensial tinggi ke titik
berpotensial rendah.  Syarat adanya arus
listrik mengalir di antaranya harus ada beda potensial (sumber tegangan) dan
ada penghantar (kabel/kawat) yang menghubungkan beda potensial. Sumber arus
listrik adalah zat yang dapat menghasilkan beda potensial listrik atau arus
listrik, atau gaya gerak listrik, atau sumber arus listrik. Alat untuk mengukur
arus listrik disebut amperemeter. Sedangkan alat untuk mengukur beda potensial
listrik adalah voltmeter.

2.1.4       
Potensi
elektrolit limbah kulit pisang sebagai energi listrik alternatif

Potensi elektrolit dari tanaman ini terdapat dihampir
seluruh bagian tanaman. Namun, potensi elektrolit terbesarnya ada pada bagian
kulit pisang. Kulit pisang ini dapat menghasilkan energi listrik alternatif
yang ramah lingkungan. Setelah melalui proses panjang, kulit pisang ini akan
menghasilkan mineral yang berfungsi sebagai elektrolit atau pengganti pasta
pada baterai.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti, kulit
pisang berukuran rata-rata 15 cm x 3 cm dengan berat sekitar 27 gram per buah.
Selain mengandung elektolit yang dapat menghasilkan listrik, kulit pisang
ternyata juga mengandung garam sodium yang mengandung klorida (Cl-) dalam
jumlah sedikit. Reaksi antara potassium atau kalium dan garam sodium dapat
membentuk kalium klorida (KCl). KCl merupakan elektrolit kuat yang mampu terionisasi
dan menghantarkan arus listrik. Kulit pisang juga mengandung Magnesium dan
Seng. Magnesium (Mg) dapat bereaksi dengan diklorida dan menjadi elektrolit
kuat. Kulit pisang juga mengandung Seng (Zn) yang merupakan elektroda positif.
Garam magnesium dan seng juga turut berperan dalam menghantarkan dan menyimpan
arus listrik searah.

 

2.2
Metode Penelitian

2.2.1 Jenis penelitian

Adapun
jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
kuantitatif. Karena penelitian ini memaparkan hasil percobaan suatu hipotesis.
Data yang terkumpul diklasifikasikan atau dikelompokkan sesuai dengan
kondisinya. Sesudah data lengkap dibuat kesimpulan dalam bentuk makalah.            

2.2.2 Sumber data dan data

Sumber
data dalam penelitian ini didapatkan dari studi pustaka. Karena penulis mencari
atau mendapatkan informasi mengenai suatu masalah yang dipilih dari buku
panduan, jurnal-jurnal, ataupun hasil penelitian oleh peneliti sebelumnya.

2.2.3 Analisis data/langkah kerja
penelitian

2.2.3.1 Alat dan bahan

Pembuatan rangkaian sumber arus listrik dari kulit pisang
membutuhkan alat dan bahan sebagai berikut.

1.     
Air rendaman kulit pisang

2.     
Konektor penjepit

3.     
Aki bekas

4.     
Lampu LED

5.     
Amperemeter

6.     
Voltmeter

7.     
Lempengan seng

8.     
Lempengan tembaga

2.2.3.2 Langkah pembuatan

Adapun langkah-langkah pembuatan rangkaian sumber arus
listrik dari kulit pisang adalah sebagai berikut.

1.     
Siapkan
alat dan bahan yang diperlukan.

2.     
Bersihkan
wadah aki bekas yang telah diambil timbalnya.

3.     
Siapkan
lempengan tembaga dan lempengan seng sesuai ukuran wadah aki bekas.

4.     
Masukkan
air yang telah direndam dengan kulit pisang selama 3 hari ke dalam wadah aki
bekas.

5.     
Susun
masing-masing satu pasang lempengan tembaga dan seng di setiap ruang.

6.     
Sambungkan
lempengan tembaga dan seng dengan menggunakan konektor penjepit

7.     
Kemudian
ukur arus dan tegangan listrik yang dihasilkan dengan amperemeter dan
voltmeter.

8.     
Hubungkan
ke lampu LED, lalu ukur berapa lama lampu LED dapat menyala dengan menggunakan
sumber arus listrik yang berasal dari kulit pisang.

 

2.3  Paparan Data dan Pembahasan

2.3.1 Hasil percobaan
kandungan dalam kulit pisang

Adapun data hasil percobaan yang
telah diukur tegangannya beserta kandungan zat kulit pisang oleh seorang
peneliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tegangan yang dihasilkan
elektrolit kulit pisang adalah 1,24 volt. Kulit pisang mengandung beberapa
mineral yang dapat berfungsi sebagai elektrolit. Mineral dalam jumlah terbanyak
adalah potassium atau kalium (K+). Kulit pisang juga mengandung garam sodium
yang mengandung klorida (Cl-) dalam jumlah sedikit. Reaksi antara
potassium atau kalium dan garam sodium dapat membentuk kalium klorida atau KCl.

2.3.2
Hal yang menyebabkan kulit pisang
dapat menghantarkan arus listrik

Kulit pisang mengandung karbohidrat
dan kaya akan mineral seperti kalium, magnesium, fosfor, klorida, kalsium, dan
besi. Karbohidrat mengandung glukosa, apabila glukosa dicampur dengan air dan
didiamkan dalam ruang kedap udara selama beberapa hari maka akan terjadi
fermentasi sehingga dapat diperoleh etanol. Etanol lama-kelamaan akan
teroksidasi menjadi asam etanoat atau asam asetat.

Asam asetat merupakan salah satu
jenis zat elektrolit. Dalam kulit pisang yang sudah difermentasi memiliki sifat
asam yang berasal dari kandungan asam asetat, hal tersebut terbukti ketika pH
larutan diukur dengan pH universal pH berkisar antara 4-5. Selain mengandung
asam asetat, kulit pisang mengandung zat elektrolit lain seperti kalium dan
garam klorida. Kalium dan garam klorida bereaksi membentuk garam kalium
klorida. Garam kalium klorida dalam air dapat menghantarkan listrik karena

dapat
terionisasi. Reaksi ionisasi yang terjadi yaitru sebagai berikut.

 

Arus listrik dapat mengalir karena
seng bertindak sebagai katode (kutub +) yang bersifat menarik ion negatif dan
tembaga bertindak sebagai anode (kutub -) yang bersifat menarik ion
positif.  Ketika air rendaman kulit pisang bersentuhan dengan unsur seng
dan tembaga terjadi reaksi ionisasi dalam larutan, sehingga dapat terjadi
aliran elektron yang menyebabkan arus listrik mengalir. Jika kedua elektrode
dihubungkan dengan lampu arus akan mengalir dari anode ke katode, dan lampu
menyala.

2.3.3 Potensi elektrolit kulit
pisang sebagai energi listrik alternatif

Hasil penelitian menunjukkan bahwa
rata-rata tegangan yang dihasilkan oleh pemanfaatan kulit pisang sebagai sumber
arus listrik adalah 1 volt. Dan ketahanan dalam LED 400 mA rata-rata selama 24
jam. Kontruksi aki cairan kulit pisang sama dengan aki pada mobil. Perbedaannya
adalah pada elektrolitnya. Kulit pisang mengandung beberapa mineral yang dapat
berfungsi sebagai elektrolit. Mineral dalam jumlah terbanyak adalah potassium
atau kalium (K+). Kulit pisang juga mengandung garam sodium yang
mengandung klorida (Cl–) dalam jumlah sedikit. Reaksi antara
potassium atau kalium dan garam sodium dapat membentuk kalium klorida atau KCl.

Hasil percobaan potensi elektrolit kulit pisang dalam
menghantarkan listrik tidak sesempurna seperti sumber energi listrik pada
umumnya. Hal ini dikarenakan banyak faktor yang kurang mendukung penelitian
yang dilakukan penulis. Faktor tersebut antara lain kurangnya sarana dan
prasarana yang kurang mendukung, kurangnya bimbingan dari orang yang
berpengalaman dalam bidang ini, dan terbatasnya informasi yang diperoleh
penulis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.4 Penutup

 

2.4.1
Kesimpulan

 

Pisang merupakan salah satu buah yang digemari masyarakat di
Indonesia. Biasanya masyarakat hanya memanfaatkan daging buahnya saja untuk
dikonsumsi, lalu membuang kulit pisang sebagai limbah. Padahal dalam kulit
pisang terdapat kandungan elektrolit yang dapat menghasilkan energi listrik.
Limbah kulit pisang mengandung Magnesium dan Seng yang jika bereaksi dengan
diklorida akan menjadi elektrolit kuat dan menghasilkan arus listrik.
Menggunakan limbah kulit pisang ini dapat memanfaatkan bagian dari buah pisang
yang terbuang untuk hal yang lebih bermanfaat dan potensi elekrolit kulit
pisang dapat dimaksimalkan menjadi sumber energi listrik alternatif yang ramah
lingkungan.

 

2.4.2 Saran

 

Menyadari
bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis akan lebih
fokus dalam menjelaskan tentang makalah di atas dengan sumber – sumber yang
lebih banyak yang dapat di pertanggung jawabkan. Untuk pengembangan lebih lanjut,
maka penulis akan memberikan saran kepada pembaca untuk memanfaatkan limbah
kulit pisang yang selama ini terbuang dan dapat mengembangkan menjadi objek
yang sangat bermanfaat seperti sebagai sumber energi listrik yang ramah
lingkungan.