KusmiyadiNPM: dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi, dan

KusmiyadiNPM: 210210150112Program Studi Ilmu Perpustakaan Universitas [email protected] PENCARIAN INFORMASI DI KALANGAN MAHASISWA PECINTA ALAMABSTRAK – Penelitian ini bertujuan untuk membahas tentang bagaimana perilaku pencarian informasi di kalangan para mahasiswa pecinta alam. Metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi, dan studi pustaka. Narasumber dalam penelitian ini merupakan dua belas orang yang merupakan dewan pengurus Klub Aktivis Pegiat dan Pemerhati Alam (KAPPA) yang merupakan organisasi mapala di FIKOM UNPAD. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semua narasumber melakukan beberapa tahapan dan dipengaruhi beberapa factor dalam proses pencarian informasi, terdapat tujuh factor yang terdiri dari tiga bagian sesuai model pencarian informasi Johnson, yaitu faktor latar belakang terbagi atas demografi dan pengalaman langsung, hubungan pribadi diantaranya keyakinan dalam diri dan arti penting suatu informasi, factor karakter, utilities dan actions atau kegiatan pencarian informasi itu sendiri.Kata Kunci: Perilaku, Pencarian Informasi, MapalaPENDAHULUANSulit dihindari memang bahwa internet sangat membantu dalam proses pencarian informasi. Banyak alasan mengapa internet kini menjadi sumber informasi utama yang dipilih oleh banyak orang menggantikan bahan cetak seperti majalah atau koran, yang paling utama ialah kemudahan mengakses karena tak dibatas ruang atau waktu.Internet merupakan tonggak besar yang merubah presepsi dan pandangan orang banyak setelah sebelumnya revolusi industri Perancis dan penemuan kertas dan mesin cetak.Penemuan mesin yang mampu menuangkan informasi dalam bentuk baru—dalam hal ini kertas—mampu meenjadi penyebar informasi yang efektif pada masanya hingga mampu bertahan hingga kini walaupun keadaaannya mulai terusik oleh munculnya internet.Semakin dimudahkannya orang-orang memperoleh informasi, disisi lain membuat sebagian orang yang kurang pandai dalam memanfaatkan informasi tersebut terjebak dalam kebimbangan dan ketidakpastian tentang informasi apa yang mereka peroleh. Karena, di internet kini banyak pihak yang memanfaatkan kemudahannya itu untuk memperoleh keuntungan bagi dirinya sendiri, tanpa mempedulikan dampak apa yang akan terjadi setelah ia menyebarkan informasi tersebut. Hingga dalam pemanfaatannya, informasi yang beredar haruslah ditelusuri dan dipastikan keabsahannya.Seperti yang terjadi baru-baru ini. Ketika terjadi bencana di Gunung Agung, muncul berbagai macam berita yang kebenarannya tidak dapat dipertanggungjawabkan. Seperti kabar bahwa Gunung Batur yang sama-sama berada di pulau Bali juga dalam kondisi tidak aman untuk didaki. Akibatnya dekitar 100 guide yang tadinya berencana membawa turis untuk menginjak puncak Gunung Batur mengurungkan niatnya untuk mendaki dan masyarakat sekitar Gunung Batur yang menggantungkan hidupnya dari destinasi wisata Gunung tersebut penghasilannya menurun drastis (www.jawapos.com/radarbali/).Informasi hoax seperti diatas banyak beredar di internet. Mulai dari berita kematian seorang tokoh, bencana di suatu tempat hingga berita tentang tempat-tempat yang banyak menjadi destinasi “petualangan” bagi para pecandu adrenalin dan mahasiswa yang menyebut diri mereka pecinta alam.Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) ialah sekelompk mahasiswa yang biasanya tergabung dalam suatu organisasi hobi atau minat, dimana kegiatan utamanya ialah menjelajah dan bercengkrama dengan alam. Mereka—mapala—terkenal dengan wataknya yang keras dan penampilan yang seakan acak-acakan. Mapala juga terkenal dengan solidaritasnya antar sesama mapala. Bahkan jika ada seseorang dari organisasi mapala secara tiba-tiba dan tanpa ada undangan apapun datang ke sekretariat/basecamp organisasi mapala lain yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya, pasti akan diperlakukan dengan sangat baik.Tulisan ini akan membahas bagaimana perilaku pencarian informasi di kalangan Mahasiswa Pecinta Alam. Tentang bagaimana organisasi-organisasi mapala menghindari berita hoax untuk memutuskan pergi ke suatu destinasi dengan informasi yang benar dan terpercaya.TINJAUAN PUSTAKAMenurut Lawrence dan Wilbur Schramm, informasi ialah setiap hal yang membantu seseorang dalam menyusun pengetahuan dan menukar pandangan tentang alam sekitar, dengan kata lain informasi ialah segala sesuatu yang mampu untuk mengurangi keragu-raguan seseorang dalam situasi tertentu. Kebutuhan informasi bagi setiap orang juga tidak sama, Jalaluddin Rakhmat mengatakan hal-hal yang mempengaruhi kebutuhan informasi seseorang ialah latar belakang, kebutuhan, pengalaman dan pendidikan. Setiap orang juga mencari informasi sesuai dengan apa yang ia butuhkan.Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) ialah sekelompk mahasiswa yang biasanya tergabung dalam suatu organisasi hobi atau minat, dimana kegiatan utamanya ialah menjelajah dan bercengkrama dengan alam. tidak hanya itu, mapala juga aktif dalam kegiatan-kegiatan seperti penanggulangan bencana, karena dasar dari seorang mapala ialah untuk bertindak dengan memperhitungkan resiko mana yang paling kecil atau paling memungkinkan untuk diambil ketika berada di berbagai kondisi khususnya kondisi yang penuh ketidak pastian seperti kondisi alam. Selain itu mereka juga dibekali kemampuan untuk melakukan penyelamatan dan pertolongan pertama pada kecelakaan.METODE PENELITIANPenelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif. Artinya data yang digunakan merupakan data kualitatif deskriptif. Data yang telah dikumpulkan diolah sedemikian rupa menjadi kalimat-kalimat yang mewakili data tersebut untuk kemudian dianalisis dan disimpulkan.Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara. Narasumber yang menjadi objek penelitian ialah dewan pengurus Klub Aktivis Pegiat dan Pemerhati Alam (KAPPA) yang merupakan sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) atau organisasi mapala yang ada di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. HASIL DAN PEMBAHASANPenelitian ini mengacu pada pencarian informasi Model Johnson. Model ini mengandung tujuh faktor berdasarkan tiga bagian. Dalam model ini faktor latar belakang dan hubungan pribadi menjadi motivasi seseorang untuk mencari informasi.Terdapat dua belas narasumber dalam penelitian ini, dimana semuanya adalah dewan pengurus KAPPA FIKOM UNPAD. Organisasi mapala di FIKOM ini banyak melakukan perjalanan keluar Jawa Barat dengan fokus utama selain pada manajemen perjalanan dan keterampilan berkegiatan di luar ruangan adalah dokumentasi pada kegiatan-kegiatan luar ruangan seperti mendaki gunung, memanjat tebing atau pengarungan sungai.Faktor latar belakang terbagi atas demografi dan pengalaman langsung. Demografi itu sendiri antara lain usia seseorang, jenis kelamin, etnis, latar belakang pendidikan, status pekerjaan, dan kesejahteraan. Menurut hasil wawancara status sangat mempengaruhi dalam kaitan mencari informasi pada kalangan mapala. Mapala lebih cenderung untuk menanyakan informasi kepada sesama mapala yang ia kenal atau yang ia cari tahu melalui catatan-catatan anggota organisasi mapala lain yang ada di internet sebelum akhirnya bertanya pada siapa yang menuliskan artikel tersebut.Dalam model ini, pengalaman langsung seseorang juga mempengaruhi akan keperluan informasi. Pengalaman langsung tersebut contohnya seperti seseorang yang pernah mendaki gunung A tiga tahun lalu dan ingin melakukan pendakian kembali di gunung tersebut tahun ini. Mapala yang sebagian besar kegiatannya berada di luar ruangan sangat memerlukan informasi-informasi tentang destinasi yang ia akan kunjungi. Pengalaman disini ialah pengalaman organisasi mapala dalam berkegiatan, hal ini memicu mereka untuk ingin mengetahui tempat-tempat yang belum pernah mereka datangi sebelumnya.Faktor hubungan pribadi diantaranya keyakinan dalam diri dan arti penting suatu informasi ikut memotivasi seseorang untuk mencari informasi. Semakin dekat suatu organisasi mapala dengan suatu lembaga atau orang yang jauh lebih banyak pengalaman dengan mereka, mampu membangkitkan motivasi, keinginan dan keyakinan mapala untuk ingin mengetahui tentang tempat-tempat yang ingin ia kunjungi bahkan untuk tempat-tempat yang tidak terpikirkan sebelumnya.Arti penting sebuah informasi dicerminkan dari kedetailan informasi yang ingin diketahui oleh mapala. Karena mapala berkegiatan di alam yang hanya bisa diprediksi namun juga penuh dengan ketidak pastian, menuntut mapala untuk mendapatkan informasi sedetail mungkin tentang destinasi yang ia akan menjadi tujuannya.Selain faktor-faktor sebelumnya ada faktor karakter yang ikut mempengaruhi terciptanya kebutuhan/keperluan informasi. Setiap mapala memiliki ciri khasnya masing-masing. KAPPA FIKOM UNPAD memiliki ciri khas atau keunggulan dalam hal dokumentasi di alam bebas. Hal ini memunculkan keinginan dan kebutuhan informasi yang mendukung karakter dan ciri khas setiap organisasi mapala tersebut selain factor alam yang pasti jadi pertimbangan. Dari faktor-faktor tersebut terciptalah kebutuhan informasi yang menghasilkan suatu tindakan pencarian informasi di kalangan mahasiswa pecinta alam.SIMPULANDari model Johnson dapat disimpulkan bahwa proses pencarian informasi di kalangan mapala dipengaruhi beberapa faktor, berupa:Demografi, dimana status sebagai sesama mapala sangat mempengaruhi mapala dalam hal kebutuhan informasinya. Mapala lebih cenderung memercayai informasi yang datang dari sesama mapala dibanding dengan orang-orang lain.Pengalaman secara langsung, berkaitan erat dengan pengalaman organisasi dalam berkegiatan. Karena mapala sudah sering berkegiatan di luar ruangan, menjadi salah satu faktor utama mengapa mapala memilih untuk mencari informasi mengenai destinasi lain yang ia belum tahu tentang informasi terkini dengannya. Keyakinan dalam diri muncul di kalangan mapala karena kedekatannya dengan seseorang atau suatu lembaga. Semakin dekat suatu mapala dengan organisasi atau orang lain yang dihormatinya, semakin intens komunikasinya, maka semakin tinggi pula keyakinan dalam diri para mapala untuk memperoleh informasi.Arti penting sebuah informasi dicerminkan dari kedetailan informasi yang ingin diketahui oleh mapala. Karena mapala berkegiatan di alam yang hanya bisa diprediksi namun juga penuh dengan ketidak pastian, menuntut mapala untuk mendapatkan informasi sedetail mungkin tentang destinasi yang ia akan menjadi tujuannya.Karakter setiap mapala yang berbeda, mempengaruhi kebutuhan informasi apa yang mapala tersebut butuhkan sesuai dengan karakteristik atau ciri khas yang mapala tersebut miliki.Dari semua faktor diatas, mapala mendapat kesimpulan tentang kepentingan suatu informasi dalam organisasinya hingga muncullah kegiatan pencarian informasi di kalangan mahasiswa pecinta alam.DAFTAR PUSTAKAHamami, Tantyo., Sinaga, Dian., & Erwina, Wina. (2014). Perilaku Pencarian Informasi Sebagai Sumber Gagasan Pembuatan Berita oleh Wartawan Pikiran Rakyat. Jurnal Kajian Ilmu Informasi & Perpustakaan Vol 2, No 2.https://sites.google.com/site/6319gpf/information-seeking-behaviourhttps://www.jawapos.com/radarbali/read/2017/09/25/15595/guide-pendaki-geram-berita-hoax-gunung-batur-naik-status-jadi-viralKincaid, Lawrence & Schramm, Wilbur. (1981). Asas-asas Komunikasi antar Umaat Manusia. Jakarta: LP3ES.Rakhmat, Jalaluddin. (1989). Psikologi Komunikasi. Bandung: Remadja Karya.Rohanda. (2013). Landasan Ilmiah Ilmu Informasi Perpustakaan dalam Perpektif Ilmu Komunikasi. Jurnal Kajian Ilmu Informasi & Perpustakaan Vol 1, No 1.Fathurahman, Muslih. Model-model Perilaku Pencarian Informasi. http://jurnal.uinsu.ac.id/index.php/jipi/article/view/101/66