Pada oleh anak yang masih di bawah

Pada zaman sekarang, merokok sudah menjadi hal yang biasa bahkan sudah
menjadi suatu gaya hidup. Biasanya perilaku merokok ini dilakukan pada
laki-laki. Tetapi, sekarang tidak jarang perempuan yang mengikuti perilaku
merokok tersebut. Perilaku ini sudah merambat ke seluruh kalangan mulai dari
anak kecil, remaja, dewasa dan orang lanjut usia. Sayangnya, perilaku ini sudah
di lakukan oleh anak yang masih di bawah umur seperti pada anak pendidikan
sekolah dasar. Alasan gaya hidup lah yang menjadi faktor utama merambatnya
perilaku ini. Merokok memang pada dasarnya dianggap lebih keren dan maskulin
dibanding mereka yang tidak merokok. Hal ini menjadi suatu alasan yang salah
besar. Kandungan yang berada di dalam rokok sangatlah berbahaya dan bisa
menimbulkan berbagai penyakit bahkan kematian.

Seseorang yang mempunyai berat badan yang berlebih (obesitas) juga
tidak sungkan untuk mengikuti gaya hidup merokok ini. Banyak dari mereka yang
tidak memperhatikan efek dari merokok tersebut. Ditambah lagi dengan berat
badan yang sudah berlebih menimbulkan berbagai penyakit. Obesitas adalah suatu kondisi
tubuh dimana mempunyai kelebihan lemak didalamnya, yang bisa menimbulkan berbagai
macam penyakit.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Menurut data dari WHO (World
Health Organization), kurang lebih 80 persen kasus baru berupa penyakit
kanker, kardiovaskular, diabetes, hypertensi, stroke, dan jantung koroner di
dunia akhir-akhir ini semakin tumbuh subur bukan hanya di negara maju saja,
melainkan di negara berkembang juga mengalami obesitas yang mendasari berbagai
macam penyakit diatas. WHO mencatat secara global ada sekitar 1,6 miliar orang
dewasa yang kelebihan berat badan atau overweight
dan 400 juta di antaranya dikategorikan obesitas yang terjadi pada tahun
2005. Pada 2015 diperkirakan kasus obesitas akan mengalami peningkatan dua kali
lipat dari angka itu. Hal ini disebabkan karena gaya hidup yang tidak sehat
seperti salah satunya kebiasaan merokok.

            Gaya
hidup secara luas didefinisikan sebagai cara hidup yang diidentifikasikan oleh
bagaimana orang menghabiskan waktu mereka, apa yang mereka pikirkan tentang
diri mereka sendiri dan juga dunia sekitarnya (Vidya Purnama S.L, dkk: 2012).
Oleh karenanya, hal ini berhubungan dengan tindakan dan perilaku sejak lahir
(Setiadi, 2003). Gaya hidup setiap kelompok akan mempunyai ciri-ciri unit
tersendiri. Jika terjadi perubahan gaya hidup dalam suatu kelompok maka akan
memberikan dampak yang luas pada berbagai aspek (Vidya Purnama S.L, dkk: 2012).
Pembangunan kesehatan mulai menghadapi pola penyakit baru, yaitu meningkatnya
kasus penyakit tidak menular yang dipicu berubahnya gaya hidup masyarakat
seperti gula berlebih, kurang aktifitas fisik (olahraga) dan konsumsi rokok
yang prevalensinya terus meningkat (Depkes RI, 2011). Tembakau/rokok membunuh
separuh dari masa hidup perokok dan separuh perokok mati pada usia 35 – 69
tahun (Depkes RI, 2009).

Laki-laki yang sudah
berhenti merokok lebih rentan terkena obesitas dibandingkan dengan perokok dan
bukan perokok (Monica Tri I: 2016). Hal ini disebabkan oleh efek ganda merokok
yaitu merokok meningkatkan pengeluaran energi dan menurunkan nafsu makan dan
kedua efek akan hilang pada mantan perokok (Chiolero et al. 2007). Dalam penelitian Monica Tri (2016) pada perokok
ditemukan rasio lingkar pinggang yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang
yang tidak merokok. Peningkatan ini disebabkan oleh nikotin yang terdapat dalam
rokok melalui efek anti estrogenik dan peningkatan hormon kortisol.

 

I.                  
Pembahasan

Rokok menjadi salah
satu faktor kematian terbesar secara nasional bahkan internasional. Hal ini
menjadi suatu permasalahan yang sulit diatasi, karena sudah menjadi kebiasaan
masyarakat. Kebiasaan ini bermula dari coba-coba agar terlihat keren, jantan,
maskulin. Padahal, di dalam kandungan rokok itu sendiri terdapat zat yang
membuat orang menjadi ketergantungan. Sifat rokok yang menyebabkan kecanduan
(adiktif) secara permanen yang menyebabkan kebiasaan merokok menjadi sesuatu
yang sangat sulit untuk dihilangkan (Nururrahmah: Volume 01).

Menurut
Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2003 tentang pengamanan rokok bagi
Kesehatan, rokok merupakan salah satu zat adiktif yangbila digunakan
mengakibatkan bahaya bagi kesehatan individu dan masyarakat, oleh karena itu
perlu dilakukan berbagai upaya pengamanan. Menurut jurnal (Regina Tutik P:
2007) rokok adalah hasil olahan tembakau terbungkus termasuk cerutu atau bentuk
lainnya yang dihasilkan dari tanaman Nicotiana Tabacum, Nicotiana Rustica dan
spesies lainnya atau sintetisnya yang mengandung nikotin dan tar dengan atau
tanpa bahan tambahan.

Kandungan
yang berada di dalam rokok sangatlah berbahaya. Bahan yang digunakan untuk membuat
rokok yaitu tembakau, cengkeh, dan tambahan saus rahasia untuk menghasilkan aroma
dan rasa tertentu. Sedangkan kandungan
yang terdapat pada rokok Menurut Muhibah (2011), racun rokok yang paling
utama adalah sebagai berikut:

1. Nikotin

Nikotin dapat
meningkatkan adrenalin yang membuat jantung berdebar lebih cepat dan bekerja
lebih keras, frekuensi jantung meningkat dan kontraksi jantung meningkat
sehingga menimbulkan tekanan darah meningkat (Tawbariah et al., 2014).

2. Tar

Tar adalah
substansi hidrokarbon yang bersifat lengket dan menempel pada paru-paru,
mengandung bahan-bahan karsinogen (Mardjun, 2012).

3. Karbon
monoksida (CO)

Merupakan gas
berbahaya yang terkandung dalam asap pembuangan kendaraan. CO menggantikan 15%
oksigen yang seharusnya dibawa oleh sel-sel darah merah. CO juga dapat merusak
lapisan dalam pembuluh darah dan meninggikan endapan lemak pada dinding
pembuluh darah, menyebabkan pembuluh darah tersumbat.

Rokok
juga mengandung zat adiktif di dalamnya. Menurut Peraturan Pemerintah RI Nomor 109
Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk
Tembakau bagi Kesehatan, Zat Adiktif adalah bahan yang menyebabkan adiksi atau
ketergantungan yang membahayakan kesehatan dengan ditandai perubahan perilaku,
kognitif, dan fenomena fisiologis, keinginan kuat untuk mengonsumsi bahan
tersebut, kesulitan dalam mengendalikan penggunaannya, memberi prioritas pada
penggunaan bahan tersebut daripada kegiatan lain, meningkatnya toleransi dan
dapat menyebabkan keadaan gejala putus zat. Pada jurnal (Regina Tutik P: 2007)
disebutkan bahwa Rokok mengandung bahan tambahan seperti ammonia, butana,
senyawa cadmium, asam stearate, asam asetat, senyawa arsenat,
karbonmonoksida, metana, dan methanol. Rokok juga mengandung
asetaldehid, akrolein, aseton, dimetilnitrosamin, naftalen, naftilamin, pyrene.

Perilaku merokok yang sudah menjadi kebiasaan
setiap orang, menyumbang berbagai macam penyakit. Penyakit yang di derita
akibat merokok tidak lah ringan bahkan bisa sampai menyebabkan kematian. Tidak
hanya perokok aktif yang terjangkit penyakit akibat rokok itu sendiri,
melainkan orang-orang disekitar yang menghirup asap rokok tersebut juga terkena
penyakit. Asap yang dikeluarkan dari rokok mengandung gas dan logam-logam
berat. Menurut jurnal Jamaludin (2017) asap rokok sangat mengganggu lingkungan
sekitar karena bisa menyebabkan iritasi mata, hidung dan tenggorokan. Selain
itu, akan mempengaruhi rasa tidak enak badan dan bagi orang yang mempunyai
penyakit asma, akan memicu terjadinya asma.

Penyakit
yang timbul akibat merokok antara lain penyakit jantung, hipertensi, kanker
mulut, kanker paru-paru, kanker tenggorokan dan lainnya. Bagi wanita yang hamil
akan terjadi keguguran, kematian pada janin, serta kematian pada bayi yang
sudah lahir. Sudah banyak kasus seseorang di Indonesia yang terkena penyakit
tersebut akibat merokok, dan juga tidak sedikit dari mereka yang meninggal.
Tetapi, hal ini tidak sepenuhnya bisa mengurangi kebiasaan merokok pada setiap
orang.

Menurut jurnal (Andina Rizkia P: 2) tar, nikotin, dan
karbonmonoksida merupakan tiga macam bahan kimia yang paling berbahaya dalam
asap rokok. Menurut Aditama TY (1997) pada
saat rokok dihisap, tar masuk ke rongga mulut sebagai uap padat yang
setelah dingin akan menjadi padat dan membentuk endapan berwarna coklat pada
permukaan gigi, saluran napas, dan paru-paru serta resiko timbulnya kanker.

Menurut
jurnal (Lina N. dan Chatarina Umbul W:
244-245) hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama
penyakit kardiovaskuler yang menyebabkan 20–50% dari seluruh kematian. Salah
satu faktor risiko hipertensi adalah merokok. hipertensi merupakan salah satu
masalah kesehatan yang serius karena merupakan faktor risiko utama untuk
stroke, gagal jantung dan penyakit koroner serta tingginya angka mortalitasnya.

Penyakit
hipertensi di Indonesia juga sangat marak terjadi bahkan menjadi penyebab utama
kematian pada semua umur. Menurut jurnal penelitian (Kesuma Indah et
al: 2016)

“Nikotin dalam rokok merupakan
penyebab meningkatnya tekanan darah segera setelah hisapan pertama. Seperti
zat-zat kimia lain dalam asap rokok, nikotin diserap oleh pembuluh-pembuluh
darah amat kecil di dalam paruparu dan diedarkan ke aliran darah. Hanya dalam
beberapa detik nikotin sudah mencapai otak. Otak bereaksi terhadap nikotin
dengan memberi sinyal pada kelenjar adrenal untuk melepas epinefrin
(adrenalin). Hormon yang kuat ini akan menyempitkan pembuluh darah dan memaksa
jantung untuk bekerja lebih berat karena tekanan yang lebih tinggi serta peran
karbonmonoksida yang dapat menggantikan oksigen dalam darah dan memaksa jantung
memenuhi kebutuhan oksigen tubuh.”

     Dengan
mengisap sebatang rokok akan memberi pengaruh besar terhadap naiknya tekanan
darah. Kebiasaan dan rutinitas yang merugikan memiliki kekuatan untuk merusak
kesehatan seseorang seperti kebiasaan merokok yang merupakan contoh kebiasaan
untuk memudahkan seseorang terkena penyakit kardiovaskuler (Geiby F. Kalalo et al: 2012). Menurut penelitian jurnal
mengenai penyakit ini dengan kebiasaan merokok oleh Geiby F. Kalalo dkk
dikatakan bahwa:

“berdasarkan
hasil analisis yang didapat, gaya hidup merokok sedang pada kelompok yang tidak
terjadi IMA sebesar 22% dengan jumlah 11 responden dimana mereka mampu
menghabiskan 11-12 batang rokok dengan selang waktu 31-60 menit setelah bangun
pagi. Sedangkan untuk gaya hidup merokok berat sebesar 28% dengan jumlah 14
responden dimana mereka mampu menghabiskan rokok 21-31 batang per hari atau
lebih, dan selang waktu sejak bangun pagi berkisar antara 6-30 menit.5 Dengan
begitu gaya hidup merokok berat mempunyai persentase responden lebih besar di
bandingkan dengan gaya hidup merokok sedang”

    Perilaku merokok yang dilakukan oleh orang
yang mempunyai berat badan berlebih atau obesitas bisa menimbulkan berbagai
penyakit. Tentu saja penyakit yang sudah di bahas pada sebelumnya karena
kandungan rokok yang sangat berbahaya. Tidak hanya itu, orang obesitas juga
mengalami pelebaran pada lingkar pinggang. Hal ini disebabkan karena
lemak-lemak dari kandungan rokok yang menumpuk.

Kebiasaan
merokok sudah menjadi hal yang tidak bisa dihindarkan sekarang ini. Semua
kalangan sudah mempunyai kebiasaan buruk ini. Orang yang obesitas walaupun
fisik luar terlihat segar bugar dan bahkan terlihat sehat, belum tentu organ
dalamnya juga sehat. Lemak yang menumpuk di organ dalam orang obesitas
kebanyakan efek dari gaya hidup yang tidak sehat.

Faktor
umur yang sudah tua atau lansia cenderung lebih memiliki resiko yang tinggi
pada ukuran lingkar pinggang yang besar akibat penumpukan lemak. Menurut
(Monica Tri I: 2016) orang dewasa dengan rasio lingkar perut dan lingkar
panggul yang tinggi memiliki faktor terhadap penyakit kardiovaskular. Kebiasaan
merokok juga bisa meningkatkan berat badan seseorang. Jika orang obesitas
mempunyai kebiasaan ini, maka berat badannya akan terus bertambah. Tidak hanya
itu, penyakit yang menumpuk pada tubuh bagian dalamnya juga bertambah dan bisa
menyebabkan kematian pada orang tersebut.